Special Parents for Special Kids

Seminggu yang lalu, saya berkutat di WordPress dan sebuah milis. Kemudian, tulisan saya menuai tangisan ibu-ibu yang membaca, sehingga gelar Drama Queen kembali saya raih. Saya nggak sanggup menjangkau MP ketika itu.

Lalu, dua hari yang lalu, saya kembali berkutat di sana untuk menulis lagi. Lagi-lagi air mata saya terkuras. Yah, saya pasrah aja, deh, disebut Drama Queen (forever).

Sebelumnya, pernah curhat di plurk juga, kalo yang saya dapat informasinya dari teman lain, Abdullah menderita Diffuse Intrinsic Pontine Glioma. Apakah itu?

A Diffuse Intrinsic Pontine Glioma (DIPG) is a tumor located in the pons (middle) of the brain stem.

Diffuse pontine gliomas are located in the brainstem, at the base of the brain. They are usually diagnosed in children aged 5 to 10. They are difficult to treat because the tumor cells grow in between and around normal cells. It is impossible to remove a tumor in this area because it interferes with the functioning of this critical area of the brain.

What causes a diffuse pontine glioma?

We don’t know what causes a diffuse pontine glioma. There is no way to predict that a child will get brain cancer and nobody is to blame if a child develops a tumor. Researchers have been studying whether environmental factors, such as radiation, food, or chemicals can cause brain cancer. At the moment, there is no definite proof that there is a connection.

What is the outcome for a child with a diffuse pontine glioma?

Because they are difficult to treat, the outcome for brainstem gliomas is poor. After diagnosis, the survival time is on average 9 to 12 months. To improve the outcome, doctors have tried giving higher amounts of radiation, or using chemotherapy medicines to kill the tumor cells. Research is underway to achieve better results. When the tumor recurs, the focus of treatment is on managing symptoms to make sure the child is as comfortable as possible.

Apakah kita sanggup membayangkan kesakitan yang lebih lama pada Abdullah?

Begitu saya tahu bahwa penyakit ini yang diderita, saya hanya bisa mendoakan semoga Ranny dan Dadan mengikhlaskan putranya. Saya nggak bisa membayangkan kalau Abdullah bangun dari komanya, hidupnya akan seperti apa.

Ternyata, ketika saya menemui Ranny di rumah sakit, saat kami menunggu jenazah dibawa ke rumah duka, dia sudah sangat siap dengan kemungkinan itu. Kemungkinan kalau hidup anaknya nggak akan lama lagi. Atau kalaupun hidup, kemungkinan besar akan cacat yang justru membuat kita akan semakin iba. Belum lagi rasa sakit yang harus ditanggungnya. Keyakinan inilah, yang membuat Ranny mengikhlaskan seandainya Abdullah dijemput Allah. Ranny juga yang membujuk suaminya untuk mengikhlaskan Abdullah. Sebab janji Allah akan surga.

Peristiwa seminggu ini benar-benar telah banyak mengubah hidup saya. Saya teringat akan awal ayat terakhir (286) Surat Al Baqarah. Laa yukallifullaahu nafsaan illaa wus ‘ahaa. Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Saya percaya, Ranny dan Dadan adalah orang yang tangguh sehingga dia mendapatkan ujian sehebat ini. Mereka berdua adalah special parents. Punya anak sehebat Abdullah.

Sewaktu saya berpelukan dengan Ranny di dekat ruangan tempat di mana jenazah Abdullah berbaring, Ranny mengatakan, “perjuanganmu masih panjang, Pen! Kamu juga orang terpilih!”

Saya? Orang terpilih? Oh, iya. Saya dan Pa il adalah special parents. Saya berjanji akan menjalankan amanah saya sebaik-baiknya sebagai special parents.

Lalu, saya katakan pada Ranny, “selamat, ya, Ran! Kamu dan Dadan udah dapat kunci pintu surga. Tinggal meneruskan jalan yang sudah dikasih Abdullah.”

Innalillaahi wa inna ilaihi raji’uun. Allaahu Akbar!

The Magic Song

Ada yang tahu lagu It Might Be You – Stephen Bishop?

Ini lagunya

Liriknya ini:

Time, I’ve been passing time
watching trains go by

All of my life lying on the sand
watching seabirds fly

Wishing there would be
someone’s waiting home for me

Something’s telling me it might be you

It’s telling me it might be you

all of my life
Looking back as lovers go walking past
all of my life

Wondering how they met and what makes it last

If I found the place, would I recognize the face?

Something’s telling me it might be you

Yeah, it’s telling me it might be you
So many quiet walks to take
So many dreams to wake

And we’ve so much love to make

Oh, I think we’ve gonna need some time
Many be all we need is time

And it’s telling me it might be you all of my life

I’ve been saving love songs and lullabies

And there’re so much more no one’s ever heard before
Something’s telling me it might be you

Yeah, it’s telling me it must be you

And I’m feeling it’ll just be you all of my life


May be it’s you
(It’s you)
Maybe it’s you
(It’s you)
I’ve been waiting for all of my life

Pertama kali denger lagu ini kapan, ya? Yang jelas, sejak pertama dengar lagu ini, saya langsung suka. Langsung gedebug in lap sama lagu ini. Dan ketika saya dengar untuk ketiga atau kelima kalinya, gitu, ya, entah kenapa, saya figure out suatu sosok. White, tall, with short wavy hair, dan yang paling penting: punya tampang rada Arab, meski ga jelas banget juga, sih. Agak samar. Tapi saya tahu, garis wajahnya ya tampang Arab gitu. Bukan tampang Cina, Jepang, atau Korea.

Padahal, saya pikir, karena saya ada keturunan Cina dari mbah buyut saya, mungkin aja “it might be you”-nya masih turunan Cina juga 😀

Waktu saya mulai punya pacar (bukan Pa il, sih. tapi pacar saya cuman satu itu, ga pernah gonta ganti), saya berusaha mengganti image di benak saya setiap saya dengar lagu ini dengan pacar saya. Tapi nggak pernah berhasil. Sosok muka Arab ini, meski samar-samar, selalu muncul.

Lalu saya ketemu Pa il, kami bersahabat, terus saya putus dari pacar saya, nggak lama dari situ Pa il menawarkan untuk punya hubungan serius more-than-just-friend dengan saya hingga akhirnya kami menikah. Selama dengan Pa il, saya belum pernah dengar lagu “It Might Be You” lagi, sampai beberapa hari yang lalu.

Tiba-tiba saya terngiang-ngiang dan pengen dengar lagi. Sebelum dapat lagunya, saya nyanyi dulu aja sendiri. Sosok itu muncul lagi. But it’s clearer. Wajahnya jelas. Sosoknya jelas. Pa il.

Saat saya mendengar pertama kali lagu ini beberapa hari lalu, saya merinding. Ada banyak lagu yang isinya ngarep, curcol, dan lainnya. Tapi ya cuma lagu. Biasa aja. Ga pake ngebayangin siapa sosok yang ada di lagu itu. Baru lagu ini, deh, yang beneran punya kesan magis buat saya. Horor, ya…

Tapi bagaimana pun cerita mistis di balik lagu ini, saya tetap suka. Sampai hari ini, sampai detik ini. Dan saya senang, ternyata sosok yang ada di benak saya setiap dengar lagu ini sudah sangat jelas. Dia adalah imam saya, papa dari dua anak-anak saya dan orang yang selalu saya rindukan setiap saat. 😀

Misteri Ms. R

Sejak mulai dekat, saya dan Pa il jarang sekali ikut campur urusan masing-masing. Sebelum menikah, memang sih, kami suka bertukar password email. Tapi itu semata-mata untuk beberapa urusan. Sebab, waktu itu buat pasang internet di rumah, harganya mahal banget. Jadi, kalo kebetulan saya di warnet, saya suka buka akun email Pa il dan membantu mengunduhkan sisipan. Begitu juga sebaliknya. Jadi, nanti kami bertemu, bertransaksi bertukar disket. Jadul banget, ya…

Begitu juga setelah kami menikah. Boleh dibilang, baik saya maupun Pa il, jarang dengan sengaja mengecek ponsel pasangan. Entah itu ngecek kotak masuk atau call log. Rasanya, kok, kayak yang nggak percaya sama pasangan sendiri kalo sampai berniat begitu. Apalagi sejak Pa il pake BB. Sering banget BB-nya bunyi. Trang tring trung. Pasti itu notifikasi ada BBM yang masuk. Apakah saya berminat mengecek BBM yang masuk? Kalo nurutin curiousity sih, mungkin iya. Siapa, sih, yang tengah malem iseng kirim BBM? Nggak tidur apa? Tapi, toh, Pa il nggak pernah terbangun hanya gara-gara ada BBM masuk.

Tapi pernah, nih, beberapa tahun yang lalu, sebelum Pa il mulai pakai BB, malah, ada hal yang membuat saya gelisah dan curiga. Setiap Pa il sedang main sama anak-anak atau sedang di kamar mandi, atau sedang tidur bahkan, suka ada telepon masuk. Lihat dari Caller ID-nya sih, namanya Ms. R. Sering banget sih, Ms. R ini nelpon Pa il? Tapi nggak saya angkat. Saya biarkan saja.

Belum lagi, kalo ada telpon masuk dari Ms. R itu ketika Pa il siap siaga nerima panggilan telepon, Pa il mengambil ponselnya, lalu menjauh dari kami dan berbicara dengan lawan bicaranya di luar ruangan. Kadang di luar rumah. Demi mendapat sinyal yang bagus atau supaya nggak terdengar oleh saya?

Ah, dasar, ya. Rasa penasaran mulai menggelitik hati saya. Padahal, sikap Pa il nggak ada yang berubah. Konon, kalo suami sudah mulai doyan perempuan lain, sikapnya berubah total. Entah itu lebih cuek atau justru makin mesra sama istrinya supaya nggak ketahuan belangnya. Katanya, lho… Amit-amit, deh, kalo sampai ngalamin mah! *ketok meja*

Setelah beberapa hari mendapati kejadian seperti itu, saya mulai mengendap-endap ngecek ponsel Pa il. Yang pasti, ketika saya melakukannya, keringat dingin mengucur. Degdegan nggak kentara. Takut ketahuan, lalu Pa il marah. Atau malah sebaliknya. Saya justru takut mendapati hal-hal yang saya “inginkan”. Maksudnya, hal-hal yang saya “inginkan” ini adalah hal-hal yang saya takuti dan menghantui saya selama ini. Bukan ingin beneran, lho.

Saya mulai menelusuri Inbox dan Sent Message di ponsel Pa il. Padahal waktu itu masih ponsel jadul. Belum pake BB. Saya betul-betul membuka semua pesan dari seseorang bernama Ms. R. Duh. Memang, sih, nggak ada pesan mesra. Tapi, kayaknya mereka janjian di suatu tempat. Pesannya singkat-singkat aja. Kayak di folder Sent Message, pesan yang ditulis Pa il kurang lebih: “iya”, “sebentar lagi”, “ditunggu”, “tunggu sebentar, ya”. Sementara di Inbox, saya nemu SMS yang ditulis Ms. R ini juga singkat. Kayak kode gitu. Misalnya, “bagaimana?”, “sudah di mana?”, “masih lama?”. Hueeeeh. Istri mana yang bisa tenang – yang udah lah penasaran terus pas bekerja menjadi detektif – malah nemuin pesan-pesan kayak begini?

Siapa ini Ms. R? Dan kenapa nggak ditulis dengan jelas R-nya siapa. Ini kan justru membuat saya curiga. Saya memikirkan semua nama perempuan yang mungkin untuk “R”-nya ini. Rina, Rani, Reni, Reti, Rima, Rida, Rila, Runi, Risma, Resti, Revi, Rini, Rika, Rose, Raya. Argh! Kayaknya belum pernah dengar nama perempuan teman kantor Pa il berawalan “R” selain “Revi”, yang saya kenal. Eh, lagian, Revi udah nggak di kantor Pa il sejak lama, kok. Dia hanya beberapa bulan aja di kantor Pa il. Lalu kenapa “R”-nya ini disembunyikan?

Hingga suatu hari, seperti biasanya, hari Sabtu adalah hari di mana Pa il bermain futsal dengan teman-teman kantornya. Hari itu, nggak tahu kenapa, Ilman rewel banget. Intinya Pa il dibuat kesiangan berangkat ke lapangan oleh kami berdua, saya dan Ilman. Dan saya sengaja menyembunyikan ponsel Pa il. Soalnya, pagi-pagi, saya sempat lihat Pa il terima telepon dari Ms. R ini. Jangan-jangan nanti mereka ketemuan di lapangan futsal? Hedeeeh! Anak istri di rumah mendambakan bisa berakhir pekan sama dia, ini kok malah janjian sama cewek lain, sih!

Pokoknya, rasakan, Ms. R! Nanti kalo Ms. R ini nelpon, bakalan saya damprat habis-habisan. Sembarangan banget ganggu suami orang, hah! Benak saya sibuk menyusun kata-kata penuh emosi untuk mendamprat Ms. R ini. Huh! Belum tahu, ya, Ms. R ini, kalo “Judes” adalah nama tengah saya?

Ternyata benar! Voila! Sekitar jam 9 pagi, ponsel Pa il berdering. Ya! Tebakanmu benar! Ms. R yang nelpon! Dengan rasa percaya diri (padahal sumpah, deg-degan banget waktu itu, sampai gemetaran), saya tekan tombol “answer” dan saya buat suara seelegan mungkin untuk menyapa dia yang ada di seberang sana. “Assalaamu’alaikum wa rahmatullaahi wa barakaatuh. Selamat pagi. Dengan istri Bapak Nasrudin Fahmi di sini. Ada yang bisa saya bantu?” Dalam hati saya berujar, mampus, lu. Bentar lagi gue semprot. Jangan berharap yang jawab ini telepon adalah suami gue, ya!

Dijawablah dari seberang sana, “Wa ‘alaikum salaam. Bu, Pak Fahm
i-nya ada?”


Eh? Sebentar…. Kok, suara laki-laki yang jawab?

“Pak Fahmi sedang ke lapangan futsal, Pak…”

“Oh, sudah berangkat, ya. Sudah lama? Kenapa belum muncul aja, ya?”

“Baru sekitar lima belas menit yang lalu. Mungkin sebentar lagi sampai, Pak. Kalo nggak macet.”

“Oh, ya udah atuh, Bu, kalo gitu, mah. Saya tunggu aja di sini.”

“Maaf, Pak. Ini dengan siapa, ya?” Pertanyaan bodoh, saya akui. Tapi saya harus tahu siapa nama penelepon. Siapa tahu, orang ini pinjam ponsel Ms. R atau disuruh Ms. R buat nelpon ke ponsel Pa il. Mungkin saja, Ms. R ini tiba-tiba merasa kalo saya sudah mencurigainya sejak lama, jadi meminta orang lain yang notabene laki-laki, menelepon Pa il.

“Ini dengan Pak Mis, Bu. Ya sudah, saya tunggu Pak Fahmi di lapangan kalo begitu. Terima kasih, ya, Bu. Assalaamu’alaikum.”

“Wa’alaikumussalaam.”

Ms. R itu laki-laki? Tapi dasar, ya. Saya masih nggak percaya. Saya beneran nunggu Pa il pulang siang itu.

Sepulangnya Pa il dari lapangan futsal, mandi, makan siang dan mulai nonton TV, saya dekati Pa il sambil nyerahin ponselnya. “Papa, tadi pagi ada telpon. Dari Ms. R. Tapi suaranya kok, suara laki-laki, ya?”

“Oh, dari Pak Mis. Iya, kan, main futsalnya se-tim sama Papa.” Pa il menjawab dengan lempeng jaya. Iyalah, lempeng. Orang emang nggak ada yang sedang ditutup-tutupi. Dan dia memang sedang bicara jujur.

“Terus, kenapa itu ditulisnya Ms? Bukan Mis? Kayak perempuan aja.”

“Hmmm. Papa buru-buru waktu itu. Kan emang lagi sibuk nyiapin tender, Bun… Terus ya kelupaan mau ngedit. Toh, yang penting sudah jelas nomernya siapa.”

“……..”

Saya jadi malu. Sudah curiga pada Pa il yang sejak dulu sayang saya apa adanya nggak pakai syarat apa pun. Nggak pernah menaruh curiga pada saya, meski saya sering cerita tentang semua sahabat saya yang rata-rata laki-laki. Dan nggak pernah menginterogasi saya setiap kali menerima telepon curhat dari beberapa sahabat laki-laki saya. Huhuhu. Maafkan Bunda, ya, Papa…

Empati?

DISCLAIMER: Tulisan ini “galau” detected. Jadi, kalo ga mau ketularan galau, sebaiknya nggak usah baca. #eh

#1. Suatu hari, teman saya lagi PMS, jadi lagi mudah meledak. Berbeda dengan saya yang meledaknya bisa dua hal: marah-marah atau menangis, teman saya yang satu itu bakalan merepet curhat nggak berkesudahan. Kalo dituruti, 5 jam bisa habis waktu saya buat dengerin curhatan dia.. via telpon! Kebayang, nggak, panasnya si ponsel.. hihihi…
Selain sedang PMS, dia juga sedang punya banyak masalah. Sampai merasa dirinya adalah orang paling menderita sedunia.

Kebetulan, dia butuh merepet dan ingat pada saya, jadilah dia menelepon saya. Sayangnya, dia nggak nanya kabar saya dulu, apakah saya available atau tidak untuk dicurhati. Apakah saya sudah pasang shield tebal, dll. Dan waktu dia asik curhat, saya sedang terkapar lemah tak berdaya karena sakit. Apakah dia ngeh dengan suara saya yang cuma bisa bilang “hmm?” “oh, gitu..” “waduh…” dengan suara lemah? Dia terus merepet sampai batre ponsel saya habis dan percakapan terputus. Saya terlalu lemah buat ambil charger waktu itu, saya putuskan untuk tidur.

Apa yang terjadi ketika ponsel saya sudah nyala kembali? Dapat kiriman sms banyak banget, yang isinya marah-marah, karena saya memutuskan telepon dan nggak minta maaf!

#2. Kemarin pagi, masih sepi, ada asap rokok masuk ke ruangan saya. Biasanya kalo kipas di atas kepala saya dinyalakan, asap rokok nggak terlalu ngaruh di dalam ruangan saya. Tapi, kemarin itu nggak. Setelah saya telusuri, ternyata penjaga kantor sebelah lagi asik ngerokok di depan jendela ruangan saya. Karena saya merasa terganggu, saya bicara baik-baik pada beliau, “Pak, punten, ulah ngaroko di payuneun jandela ieu. Haseupna lebet ka ruangan saya, Pak. Saya janten sesek, teu tiasa napas. Nuhun, Pak” (Pak, maaf, jangan merokok di depan jendela ini. Asapnya masuk ke ruangan saya, Pak. Saya jadi sesak, nggak bisa napas. Ma kasih, Pak.”

Apa reaksi orang ini? Matanya mendelik ke jendela saya, lalu bilang, “oh!” dan pasang ekspresi murka. Kemarin, saya sedang senang hati, jadi lihat reaksinya saya nggak berniat menggampar. Kalo kemaren mood saya lagi ancur, bisa saya labrak orang itu. Bukannya minta maaf! Yah! Saya tahu! Dia gengsi ditegur “anak buah” yang masih muda dan lucu ini. Heran saya. Ke tetangga sekitar, dia suka ngaku-ngaku “Manager” dan nunjuk kami-kami yang muda ini anak buahnya… *ngakak guling-guling*
Kalo tetangga di daerah kantor saya ini waras semua, pasti mereka nggak percaya. Mana ada manager kerjaannya nongkrong di depan teras, yes?

#3. Hari Jumat pagi, biasanya Eyiq senam pagi, seperti postingan-postingannya di hari-hari Jumat. Nah, Jumat itu (udah lama, sih), saya naik angkot dan mau ngetes sinyal GPRS. Saya ngirim iMessage ke Eyiq, soalnya kan paling cepet keliatan. Kalo di layar balon kata message-nya berwarna hijau, berarti GPRS-nya nggak nyala alias terkirim sebagai SMS. Kalo di layar balon kata message-nya berwarna biru, berarti GPRS-nya nyala dan terkirim sebagai iMessage.

Pesan saya waktu itu, “lagi senam, ya, Eyiq?” dan blup! Balon kata message di layar berwarna biru. Oke. Berarti sinyal GPRS saya lagi waras. Saya bisa plurk-an kalo gitu. Ternyata, Eyiq balas. Dia jawab, “lihat aja di Path.”
Karena sinyal GPRS lagi asik, saya segera buka Path dan hati saya mencelos. Eyiq sedang berduka cita karena sepupunya yang masih bayi meninggal dunia. Dan Eyiq sedang berada di rumah duka.

Segera saja saya minta maaf sama Eyiq. Soalnya saya nggak ngecek dulu Eyiq ada di mana. Niat usil nyapa, malah membuat saya jadi manusia nggak peka. 😦


#4. Sewaktu saya lagi sedih, karena iPod ilman hilang, saya cerita ke seorang teman. Ternyata di saat yang sama, seseorang yang saya ceritain itu lagi ada masalah juga. Jadinya, yah, dia meninggalkan percakapan dengan saya karena sedang marah entah sama siapa. Saya yang lagi down, tambah down aja, merasa nggak dipedulikan. Walau keesokan harinya, kemudian dia minta maaf karena merasa nggak peka.

Tapi, yah, ketika kita lagi ketiban musibah, biasanya kita bakalan merasa paling menderita sedunia dulu sih (reaksi umum), sebelum kemudian bisa berikhlas ria. Atau malah marah-marah pas dinasihati untuk mengikhlaskannya dengan komentar, “emangnya ikhlas itu gampang?”

“Lucu”nya lagi, waktu saya cerita ke seseorang yang lain, dia malah dengan santainya bilang, “ya udah, Bu.. beli aja lagi… gampang, kan?” *dalam hati, nih, saya ngedumel, “iya, situ punya duit kayak (maaf) b**ak! Ngegampangin aja!”*

#5. Kapan itu, sejak salah seorang teman saya tahu bahwa Ilman termasuk ABK, dia menjadi ekstra hati-hati pada saya. Alasannya, sih, takut saya tersinggung. Hubungan kami menjadi nggak seperti biasa lagi. Dia terlalu banyak hati-hati pada saya. Misalnya, kalo lagi ngumpul, trus ada yang “pamer” soal kehebatan anaknya, teman saya ini langsung memberi peringatan, “pssst” seraya matanya menunjuk saya diam-diam. Ya, Allah.. memangnya saya kenapa?

#6. Pernah, saya ngajak Ilman main ke rumah salah satu kenalan saya. Waktu itu, Ilman belum bisa bicara. Sementara anak kenalan saya ini sudah bisa ngobrol, padahal usianya dua tahun di bawah Ilman. Neneknya meraih cucunya sambil melirik Ilman dengan sudut matanya (kebeneran saya lihat banget) bilang, “Sini, cucu Oma yang pinter… udah pinter ngomong, abis ini pinter apa lagi ya…” *yah, mungkin saya lagi sensi… tapi, kalo dia sendiri yang ngalamin, bisa terima juga, nggak digituin?*

#7. Sewaktu saya berkomentar soal “lebay”nya pedangdut SJ pas kehilangan istrinya, teman saya tiba-tiba nyolot. “Peni nggak tahu, sih, rasanya kehilangan orang paling disayangi!!” *oke, waktu itu, ibu teman saya baru setahun meninggal. Jadi, dia masih dalam masa berduka.* Saya cuma bisa bilang, “Iya, saya tahu banget, kok. Saya ditinggal ibu yang melahirkan saya waktu saya masih kecil malahan.. hehe..” Tapi, yah, tetep. Saya dianggap nggak berempati.. ya sutra…

#8. Beredarnya joke sehubungan dengan tragedi jatuhnya Sukhoi. Ada yang bilang, “pilotnya kaget, lihat salak segede gunung” lah, juga joke-joke lain yang sama sekali nggak lucu untuk situasi berduka seperti itu. Nggak pada mikirin keluarga yang lagi berduka, apa? Kalo anggota keluarga atau sahabat kamu termasuk korban, masih mau terima orang lain bercanda, hah?

Kenapa, ya… giliran kita yang lagi punya masalah, banyak orang lain yang suka nggak berempati sama kita. Lah, giliran mereka yang punya masalah, mereka pengennya kita yang pakai sepatu mereka…

hari ini, setahun kemarin….

Yap. Ilman sudah punya adik. Begini kronologis ceritanya yang sudah saya simpan lama di hard disk eksternal, juga hard disk di kepala saya…

Tanggal 15 April 2011 sore, kontrol terakhir ke dr. Anita Deborah Anwar, DSOG.
“Dok, HPL-nya tanggal 24 April. Kok, belum terlihat ada tanda-tanda, ya?” *padahal, udah dua mingguan, sering muncul flek walau ga banyak… malahan, udah pada bilang, “sebentar lagiiii…”*
Dokternya jawab, “sabar, Bu… anak kedua pasti turun sendiri nanti ke jalan lahir, begitu sudah waktunya turun…”
Wait… bu dokternya kayaknya nggak ngeh, kalo anak pertama dulu sectio… menurut bidan yang saya datangi sewaktu muncul flek pertama kalinya, katanya kalo mau partus normal, anak kedua ini buka jalan baru. Karena, waktu kakaknya dulu, nggak ada pembukaan di jalan lahir. Tapi saya mencoba menenangkan diri, sambil terus berafirmasi positif bahwa adek akan lahir lewat partus normal. Titik.

“Trus, saya ke sini lagi kapan, Dok? Kalo 7 hari lagi, berarti tanggal 22, kan, ya? HPL tanggal 24, lho…” *bawel, cemas, waswas*
“Hmmm.. Ibu ke sini lagi tanggal 26 April aja, kalo ternyata tanggal 24, 25-nya belum lahir…”
“Baiklah…”

Oke. Kerjaan saya ternyata sudah selesai sejak tanggal 22 April. Mau mulai cuti, saya malah nggak karuan di rumah. Bingung sendiri. Beberapa waktu sebelumnya kan, saya pernah cuti dua hari. Ternyata ya gitu… malah jadi rungsing sendiri…

23 April 2011. Senam hamil.
Nanya ke instrukturnya, “Bu bidan, HPL saya besok… kok, saya belum ngerasain mules, ya? Kayak apa, sih, mules itu?” *meski anak kedua, saya belum pernah tahu rasanya mules menjelang melahirkan… dulu kan sectio*.
Setelah dijelaskan, dicek juga sama ibu bidan… “banyakin jalan kaki, deh, bu… kalo bisa, dari sini ke rumah jalan juga… hehehe…”

25 April 2011. Kantor. Jam 8. Perut mulai berasa kencang.
“Eh, sekarangkah waktunya?” Tapi saya cuek aja. Tiap berasa kencang, masih dua jam sekali juga, saya narik napas, ngatur napas. Dan cuek berladang. Nanem yang 12 jam pula… Dengan yakin banget, bahwa nanti malam saya bisa nanam untuk empat hari, dan ketika itu saya sudah keluar dari rumah sakit… dan bakalan berladang online lagi sepuasnya sepulang dari rumah sakit.

Jam 10. Tiba-tiba ada panggilan meeting sama pemegang saham. Orangnya sebenernya nggak galak. Tapi kalo berdeham, bisa bikin jiper. Trus, suaranya juga kencang. Mendukung banget, deh, dengan postur tubuhnya yang tinggi besar itu.
Entah karena mendengar suara pak pemegang saham yang menggelegar atau memang sudah pengen brojol, saya perhatikan sejak ketemu sama beliau, mules dan perut kencang di perut sudah mulai berdurasi lebih cepat dari 2 jam sekali, yaitu 15 menit sekali.

12.00. Selesai meeting. Pak pemegang saham nanya, “kapan kamu melahirkan, Pen?” sambil nyengir saya jawab, “harusnya kemarin, Pak…” Bu direktris waktu itu melotot. “Haaah?” Langsung bikin pengumuman ke semua teman kantor saya — yang semuanya pria — untuk menjadi “teman siaga”. Kalo saya mulesnya udah lebih sering, segera angkut ke rumah sakit. Siapin nomer taksi, siapin nomer driver kantor. Hahaha…

Siang itu, saya bilang ke pa il, kalo saya udah mulai mules tiap 10 menit sekali… lah, pa il malah nanya, “trus gimana? ke rumah sakit sekarang?” saya nggak tahu, apakah saat itu pa il sendiri sudah benar-benar siap atau masih keder karena lagi banyak kerjaan, jadi jawabannya kayak gitu… hihihi… yang akhirnya saya jawab, “ya udah. nanti sore aja. terusin aja dulu kerjaan papa…”

Dasar saya geeran, saya pikir pa il bakalan ngecek tiap jam keadaan saya… ternyata dia malah asik meeting… hiks… *merasa diabaikan*
Alhasil, pulang tetep setelah maghrib dan nggak belok ke rumah sakit dulu. Tapi saya biarin aja dulu, deh. Toh, saya udah registrasi ke Hermina Pasteur. Kalo misalnya butuh ambulans atau apapun, ada nomer darurat yang bisa dihubungi di rumah sakit. Lagian, kan, saya masih mau berladang online… Jam 8 malem nanti saatnya panen!

Sesampainya di rumah orangtua untuk jemput Ilman, saya bilang ke orangtua kalo saya udah mules. Ibu saya yang kuatir nyuruh saya nginep aja. Biar kalo ke rumah sakit deket. Saya jawab, “nggak apa-apa, Bu. Di belakang rumah kan ada perawat Hermina… tinggal gedor pintunya aja… dia tahu mesti ngapain..” *padahal terus terang, saya udah mulai cemas juga.. tapi cemas menjelang melahirkan itu kan biasa…*

Saya makan banyak di rumah orangtua saya waktu itu. Lalu kami bertiga (saya, pa il, dan ilman) pulang ke rumah kami di Cihanjuang. Mule
s saya masih bertahan setiap 10 menit sekali. Dan akhirnya saya mulai nggak bisa berladang, karena mulesnya mulai menyakitkan dan melelahkan. Akhirnya, setelah shalat isya’, saya cuma bisa rebahan, menikmati masa-masa mules itu dan masa-masa nggak mulesnya. Saya tetap berhitung. Masih tiap 10 menit dengan durasi 1 menit saja.


22.00 saya berusaha memejamkan mata. Tiba-tiba saya mendadak merasa mual sekali. Seperti ada yang menekan ulu hati saya. Kepala saya juga pusing. Lalu, saya berlari ke kamar mandi dan memuntahkan apa yang saya makan. Semuanya. Nggak bersisa. Saya sampai gemetaran.
Pa il sms bapak saya, ngasih tau keadaan saya. Bapak nyuruh pa il buatkan saya teh manis panas, supaya saya tetep punya energi.

Jam 23.00. Saya berusaha tidur di sebelah ilman di kamar. Tapi nggak bisa. Tiap saya memeluk ilman, kayaknya badan saya berontak juga. Saya terus berafirmasi, bahwa mules ini cuma terjadi sebentar. Ini proses yang akan dilalui, adek sebentar lagi akan bertemu kita… Ternyata saya nggak bisa tidur. Karena sepuluh menit kemudian, muncul lagi pusing di sela-sela mules… Akhirnya saya pindah ke depan tv. Tiduran di sana. Pa il nemenin saya. Setiap 10 menit, saya mencengkeram tangan pa il, saking sakitnya. Pa il kebangun, trus tidur lagi. Hehehe…

26 April 2011. Jam 03.00. Saya kebelet pipis, ada lendir merah gede banget. Dari situ saya yakin, waktunya sebentar lagi. Kepikiran mau ngegedor suster Ririn *yang dulu bantu saya melahirkan Ilman*, tapi saya pikir, nunggu mulesnya maju tiap 5 menit aja deh, nanti.

06.00. Pa il mandiin ilman. Saya udah nggak bisa konsentrasi. Soalnya, setiap mules, mata saya berkunang-kunang terus. Jadi, saya limbung. Padahal, seingat saya, belum pernah ada yang cerita pada saya, kalo mules itu pasti berkunang-kunang atau pusing… Jadi, saya fokuskan untuk mengafirmasi diri saya terus.. bahwa semua baik-baik saja.

07.30. Sampai di rumah orangtua saya. Saya sarapan, sementara pa il ngantar Ilman dulu ke sekolah. Adik saya yang juga sedang hamil besar, bikinin saya kopi ginseng. Buat stamina, katanya.

09.00. Hermina Pasteur. Masuk UGD, untuk periksa tekanan darah dan persiapan masuk ruang bersalin. 110/90.

09.30. Ruang Bersalin. Periksa CTG dan tekanan darah. Kontraksi masih setiap 10 menit dengan durasi 1 menit. 110/90.

10.00. Ruang Bersalin. Diambil darah. Diwawancara, dimintai data ini dan itu. Sementara, pasien sebelah mau dikuret. Kyaaa….

10.30. Ruang Bersalin. Periksa dalam. Baru bukaan 2-3. Ditinggal pa il, yang pulang dulu ambil baju dan duit.

11.00. Ruang Bersalin. Disuruh makan siang. Mulesnya mah masih 10 menit sekali.

12.00 Ruang Bersalin. Baru bisa makan siang, karena lagi-lagi ada pemeriksaan. Pa il datang. Flek mulai banyak.



13.00. Ruang Bersalin. Udah mulai gerah. Mules nggak maju-maju. Mata tetep berkunang-kunang…

14.00 Ruang Bersalin. Periksa dalam lagi. Masih bukaan 3-4.

16.00 Ruang Bersalin. DSOG datang, meriksa dalam. Katanya udah bukaan 5. Sempet ada diskusi antara bu dokter sama perawat, yang membuat saya jadi periksa dalam lagi (untuk ke sekian kalinya) oleh bidan senior. Tadinya mau disuruh pecahin ketuban, pas lihat alatnya, saya langsung bilang nggak mau. Mau jalan-jalan aja… Hihi… Jiper. Nah, pas bu dokter udah keluar, saya memutuskan jalan-jalan. Di meja perawat, saya dengar kalo dokter berdiskusi tentang saya. Di buku riwayat kehamilan saya, katanya panggul saya sempit, makanya anak pertama sectio. Setelah diperiksa, nggak terbukti panggul saya sempit. Akhirnya saya dipanggil lagi, buat periksa dalam (lagi!)
Intinya untuk meyakinkan bahwa saya bisa partus normal dan tidak ada indikasi panggul saya sempit. Dokternya bilang, kalo mau sectio lagi, hayuk! Tapi kalo mau partus normal juga hayuk. Karena progres bukaan cukup bagus. Dan jam berapapun beliau siap. Saya merasa tersemangati untuk nggak menyerah.

17.00. Jalan-jalan lagi. Pas lewat meja perawat, saya berhenti, karena mules dan berkunang-kunang. Perawatnya nanya, “kenapa, Bu? Mules, ya?” Saya jawab, “Iya.. berkunang-kunang juga soalnya… pusing…” Perawat kaget kan…, dia langsung bilang, “Ibu, sebaiknya Ibu naik ke tempat tidur dulu, ya… Kita harus periksa tekanan darah ibu… Soalnya, Ibu nggak boleh pusing kalo lagi mules…”
Saya sendiri nggak tahu, gimana ceritanya saya udah ada di tempat tidur lagi, trus disuruh pipis dan air seninya ditampung… terus pemeriksaan darah lagi…

17.30. Saya jalan-jalan lagi, lalu dipanggil dan disuruh tiduran dulu. Di situ, seorang perawat agak senior, menghampiri saya, meraih tangan saya sambil mengusapnya dan berkata, “Ibu… ada kabar buruk… kreatinin di urin ibu positif tujuh… artinya, Ibu terkena pre eklampsia… Sekarang gimana, Bu? Ibu mau terus partus normal atau mau ambil jalan sectio aja? Ibu tahu, kan, tentang pre eklampsia?” Saya mengangguk. Lemas.
Perawat agak senior itu menambahkan lagi, “Kalo Ibu masih ragu, saya coba hubungi DSOG Ibu sekarang, ya.. nanti kita teruskan ke spesialis Penyakit Dalam…” Saya cuma bisa mengangguk. Saya masih nggak mau menyerah. Saya yakin, saya bisa partus normal.
Lalu, di tangan saya terpasang jarum infus walau saya sudah menolak. Perawat bilang, untuk jaga-jaga aja. Lalu, di badan saya dipasangin kabel-kabel yang terhubung dengan sebuah monitor tekanan darah.
Nggak lama, datanglah dokter spesialis Penyakit Dalam. Beliau bilang, kalo memaksakan partus normal, hanya ada dua kemungkinan. Lumpuh atau gagal. Siapa sih, yang nggak mau partus normal? Tapi untuk kasus pre eklampsia, sebisa mungkin dihindari keduanya… Saya berpikir lagi, iya kalo saya mati, saya bisa jadi syahidah. Tapi, kalo saya lumpuh? Saya malah merepotkan semua orang. Dilema. Pengen nangis rasanya. Dan diam-diam, tekanan darah saya menaik.
Perawat rumah sakit yang tetangga belakang rumah datang menjenguk. Saya bilang, “bu Ririn, kalo nanti saya harus sectio, sama Bu Ririn, ya, ditemeninnya?”
“Wah, saya mau banget, Bu.. tapi jam dinas saya sudah habis, Bu… tenang aja, ada teman saya, kok, Bu…”

18.00. Mom. Daddy. Mereka bergantian menemui saya, sementara Ilman di luar, gantian dijagain papanya. Saya minta maaf ke bapak, ke ibu. Ya, siapa tahu, umur saya di dunia selesai sampai di situ. Saya mohon doa, semoga diberikan yang terbaik untuk adek (bukan buat saya, lho… nggak kepikiran minta selamat ketika itu :D). Meski ibu dan bapak nggak banyak berkata, tapi dari matanya yang memperhatikan semua jenis benda yang ditempelkan ke tubuh saya, saya tahu mereka khawatir.

Sepupu saya datang juga. Dia berusaha membantu saya mengafirmasi diri saya bahwa semua baik-baik saja. Meski ada perawat bawel banget, pas saya lagi mules, dia pengen meriksa saya… 😦

19.00. Saya mulai dipuasakan. CTG lagi. Saya nggak tahu, kenapa saya harus puasa. Saya udah mulai kehabisan tenaga. Bahkan buat bernapas sekalipun. Mules ditambah pusing berkunang-kunang itu menghabiskan tenaga banyak sekali, jenderal! Tekanan darah saya waktu itu sudah berkisar 140-160/100-110

19.30. Saya diganti baju untuk operasi. Saya udah pasrah. Kalo emang harus sectio.. Sepupu saya terus nguatin saya dengan bilang, “yang penting selamat, ya, Bun… bentar lagi ketemu adek… Adek.. bantu bunda ya…” Dan saya dibawa ke kamar operasi. Here we go again… Ketemu lagi deh lampu operasi segede gaban… Kali ini, saya terpikir buat memicingkan mata, biar keliatan kayak apa operasinya nanti. Pengen liyat the amazing baby comes out… Sayangnya, mata saya kan rabun… hahahaha… *ketawa miris*

Sewaktu ditanya, “Bu, bisa ngangkat badan, ke meja operasi?” Saya mengangguk. Saya mulai beringsut dari ranjang ruang bersalin ke meja operasi, dibantu perawat dan bidan. Saya sempat tanya, “Dok, bisa, nggak, mulesnya dihilangin kalo emang mau sectio? Sekarang mulesnya udah percuma, kan?”
Dokternya bilang, “ya nggak bisa, Bu.. mules itu kan proses alami…”
Lalu saya mendengar, dokter dan bidan ngobrol bercanda gitu…, sampai akhirnya saya dengar dokter anestesi bilang, “Bu, duduk, yuk! Kita mulai bius epiduralnya…”
Saya jawab, “sebentar, Dok… saya lagi muh.. leeessshhh…” lalu saya berusaha menarik napas.. adek kayak menggeliat mau keluar… rasanya saya udah siap mengedan… di telinga saya, alat monitor yang tadinya berbunyi, “pip.. pip.. pip..” menjadi “piiiiiiiiip…” panjang gitu, lalu saya dengar sedikit kehebohan antara dokter, bidan, dan perawat.

Ketika mata saya terbuka, saya sudah tidak lagi berada di bawah lampu operasi. Saya sedang dikerumuni beberapa perawat. Mulut saya juga dimasukkan alat berupa sonde, yang kemudian saya tahu ternyata dimasukkan sampai ke tenggorokan saya, sehingga saya tidak bisa berbicara bahkan bersuara.
Beruntung sekali, perawat yang sedang ada di hadapan saya bisa baca gerakan mulut saya yang tertutup sonde itu. Saya tanya, “suami saya mana?”
Jam besar di ruangan itu menunjukkan angka 02.00. Dini hari.
Pa il masuk, senyum, megangin tangan saya. Oke. Saya sekarang udah nggak di kamar operasi. Tapi kayaknya ini bukan di ruang pemulihan, deh. Seingat saya, ruang pemulihan nggak seperti ini. Saya lalu tertidur lagi.
Paginya, saya mencari lagi pa il, via perawat. Kali ini, saya mulai bertanya-tanya. Saya bertanya dengan cara menuliskan apa yang ingin saya tanyakan, di jari pa il.
Saya nulis, “bunda kenapa?”
Pa il jawab, “bunda pingsan waktu mau dioperasi. jadi bunda harus dirawat di sini dulu.”
Saya nulis lagi, “adek?”
Pa il jawab, “adek ada di ruangan seberang. tuh, keliatan dari sini…”
Saya nulis lagi, “adek baik-baik aja?”
Pa il jawab, “iya… nanti papa lihatin fotonya ke bunda…”
Selanjutnya, komunikasi saya dengan pa il lewat tulisan masih berlanjut sampai jam 8 malam, karena sonde terpasang 24 jam. Begitu sonde dilepas, saya senang sekali karena boleh MINUM! Yak! Haus, saudara-saudara!

Ada satu hal yang cukup mengganggu saya, membuat saya bertanya-tanya. Sewaktu perawat yang tetangga saya itu datang menengok saya, matanya berkaca-kaca. Berkali-kali dia mengusap tangan saya dan menghapus air matanya. Ada apa, sih? Katanya adek baik-baik aja… Lalu? Kenapa?

Begitulah. Ibu mertua saya juga masuk dan tertegun melihat saya. Saya jadi bingung. Saya kenapa, sih?

Setelah 48 jam, saya diperbolehkan masuk ke ruang rawat biasa… Saya senang sekali. Dan anehnya, saya bisa jalan meski pusing. Si luka operasi nggak berasa sama sekali dan saya juga nggak merasakan kesemutan! Senangnya! Meski saya masih dimandiin sama perawat, tapi kadang saya suka nekat pengen masuk kamar mandi sendiri… Hehehe…

Yang aneh dari proses persalinan ini adalah… leher saya yang kaku. Aneh rasanya, seumur hidup baru ngerasain leher kaku. Tengeng bukan. Salah posisi tidur juga bukan. Dan saya belum boleh menyusui, karena obat-obatan yang saya minum. Sampai akhirnya saya minta pulang paksa hari Sabtu, 29 April, setelah saya melihat bayi tampan saya. Saya bilang, saya udah nggak apa-apa. Meski tekanan darah saya masih 160/120 ketika itu.

Beberapa waktu kemudian, setelah saya pulang, saya mendengar, bahwa ketika saya akan dibius epidural dan menarik napas, saya tiba-tiba kejang lalu pingsan. Saya diberi obat penenang sekaligus bius total dan dioperasi. Saya nggak ngerti itu gimana ceritanya. Yang pasti, adek sempet nggak nangis begitu lahir, karena kena efek obat penenang itu, dia jadi tidur. Makanya dia juga sempat nginep di NICU/Perina. Kenapa saya kejang? Karena tekanan saya “ngagijlek”, dari 160 ke 200. Badan saya kaget. Gitu, katanya…. Jadi, dari kasus pre eklampsia, naik ke eklampsia berat.

Ya.. setahun sudah berlalu… bocah itu sekarang sudah setahun umurnya… sudah bisa naik tangga, sudah suka ngerecokin makanan kakaknya… dan sudah bisa berempati kalo kakaknya bersedih… hehehe… yak.. perkenalkan.. inilah Zaidan Akmal Nuh… panggilannya “Adek” atau “Zaidan” atau “Zidan”….







entah kenapa, suka banyak yang nuduh Zidan ini cewek, dengan sebutan, “si neng meni geulis”. Dalam bahasa Sunda, “geulis” berarti “cantik” untuk perempuan… apa karena terlalu mirip ibunya, gitu, ya? hihihi…

selamat ulang tahun, adek… tetaplah menjadi penyejuk hati kami semua… bunda sayang adek… *kiss*

Perjalanan Masih Panjang…

Masih pengen lanjutin cerita ini. Dan emang nggak akan pernah selesai nulis di sini, kayaknya. Hari ini saya lagi pengen menjauh sebentar dari kerjaan. Pengen mendistraksi diri dengan bercengkrama sama MP

Sejak 4 Oktober 2010, Ilman tercatat jadi murid di SLB dan Rumah Terapi Solalin. Tempatnya di Sarijadi, dekat dengan rumah yangkung dan yangti. Jangan bayangkan SLB – Sekolah Luar Biasa yang terdiri dari orang-orang tuna rungu, tuna netra, dll, ya. Memang, sih, tiap orang yang denger kata SLB keluar dari saya, pasti langsung protes. Kenapa Ilman harus masuk SLB? Gitu…


Yes, Solalin itu bukan sekolah biasa. Di dalamnya berisi anak-anak luar biasa. Gurunya juga. Subhanallaah! Kalo punya lima jempol, kuacungin semua, deh! Untuk kesabaran mereka, untuk dedikasi mereka terhadap anak-anak kami yang berkebutuhan khusus. Berkebutuhan khusus dalam hal apa? Di antaranya, mereka menangani anak-anak autis, asperger, speech delayed, ADHD, dan lain-lain.

Progres perkembangan Ilman sejak sekolah di sana, boleh dibilang hebat banget. Mulai dari masih bubbling di usianya yang sudah menjelang empat tahun ketika itu dan sewaktu mulai masuk sekolah, sudah mulai terdengar beberapa kosa kata, seperti “pinjam”, “bunda”, dan lainnya.

Sekarang? Ilman bahkan sudah jadi copy cat untuk banyak kalimat. Baik itu yang dia dengar dari kami – orangtuanya, gurunya, bahkan dari film yang disukainya. Apakah perjalanan kami selesai sampai di sini? Jawabannya: nggak.

Beberapa waktu lalu, saya masuk jadi anggota grup LRD Member di facebook *saya masih belum tahu apa itu LRD sampai sekarang* dan membaca banyak pengalaman orang-orang yang memiliki anak berkebutuhan khusus di sana. Bahkan, ada ibu yang autis dan punya anak autis pula menjadi anggota di sana.

Setiap kali saya baca postingan mereka di sana, air mata saya selalu berderai. Saya nggak tahu kenapa. Apakah karena saya merasa “nelangsa”, kenapa harus anak saya yang mengalami ini? Apakah karena saya mulai capek padahal saya belum ngapa-ngapain untuk meningkatkan kemampuan anak saya? Apa karena saya tahu, karena asperger bukan sebuah penyakit, melainkan diagnosa seumur hidup jadi nggak pernah tahu kapan “sembuh”nya. Saya sempat kecewa, karena ternyata Ilman bukan hanya “speech delayed“.

Sering sekali, tenggorokan saya tercekat, setiap ada pertanyaan, “sampai kapan Ilman sekolah di Solalin?”

Tapi… Kenapa juga saya harus merasa nelangsa? Di grup LRD itu, banyak yang jauh lebih nelangsa daripada saya, tapi mereka “biasa” aja. Mereka tegar. Kuat. Bahkan, saat ngumpul sama para orangtua murid Solalin sekalipun, ternyata masalah mereka jauuuuuuuuuuuuuuuuuh lebih berat daripada yang saya alami. Ilman dinyatakan asperger, dari hasil diagnosa tim dokter psikiatri anak dan remaja RSHS Bandung. Tapi asperger yang disandang Ilman termasuk ringan. Nggak sampai perlu terapi obat-obatan seperti yang lain. Nggak ada alergi tertentu. Kebetulan memang anaknya aja yang memang terlalu pemilih dalam makanan, jadi agak susah ngasih banyak makanan ke dia. Jadi, kenapa saya harus merasa sengsara? Harus merasa sendirian? I am not alone in this world, right? Saya bukan orang paling menderita di dunia ini, kan? Lalu, kenapa saya harus merasa seperti itu? Wake up!

Sewaktu lihat postingan teman-teman saya akan prestasi anak mereka, terkadang hati saya mencelos. Saya juga pengen banget “pamer” karya anak saya. Tapi, pernah, nih, waktu saya bilang, “alhamdulillaah… kakak Ilman sekarang sudah bisa pakai baju sendiri…” ada yang komentar, “hah? Lima tahun baru bisa pakai baju sendiri? Yang bener aja! Nggak pernah diajarin, ya?”


Waktu Ilman tiba-tiba tiduran di lantai mini market, saya mendapat lirikan tajam dari beberapa pengunjung mini market. Mungkin, mereka pikir Ilman gila, kali, ya.

Oke. Ilman memang termasuk anak berkebutuhan khusus. Asperger namanya. Tapi bukan berarti dia idiot yang nggak bisa diajari apa-apa. Bukan berarti dia gila. Ilman baik-baik aja. Kalopun dia berulah seperti anak nakal, dia nggak pe
rnah menginginkan itu. Kami nggak pernah membiarkan dia untuk seperti itu. Trust me. Kami juga pengen dia bisa bertingkah seperti layaknya anak normal kebanyakan, kok. Dan kami juga yakin, Ilman sendiri pasti menginginkan itu. Itulah sebabnya, kenapa Ilman nggak kami masukkan ke sekolah biasa. Kami mencari sekolah pendampingan seperti Solalin. Supaya Ilman juga nggak jadi korban bullying. Supaya Ilman bisa optimal saat harus bersosialisasi atau belajar mata pelajaran akademik.


Waktu Ilman mau tampil di panggung saat pentas seni akhir tahun 2011 lalu, saya nggak bisa berhenti merasa terharu. Ilman menyanyikan lagu “Rukun Islam” dan “Satu-satu Aku sayang Ibu” yang liriknya dia ganti dengan “satu-satu aku sayang bunda… dua-dua juga sayang papa…”

Ilman sekarang bisa nyanyi beberapa nusery rhymes, seperti “Come swim with me” atau “Vinko the Dancing Bear”, “Colors”-nya Barney Dinosaurus, dan lain-lain. Dia pun sekarang bilingual – bahasa Indonesia dan bahasa Inggris. Setiap kata, pasti diikuti bahasa Inggris. Misalnya, “kucing – cat”, “kuda – horse”. Terkadang, Ilman juga mengajari gurunya di Solalin menyanyikan lagu yang saya ajarkan padanya. Untuk akademikpun, kemajuan Ilman jauh melampaui target. Begitu laporan dari guru Ilman. Sekarang, Ilman sedang diajari kemandirian, seperti makan sendiri atau membasuh diri sendiri. Ilman sudah bisa merecoki kami di dapur, setiap dia mau makan.

Perjalanan masih panjang. Panjaaaang banget supaya Ilman bisa betul-betul mandiri. Seperti Osha yang sekarang kuliah di Yogya, padahal mamanya di Bekasi. Seperti anak-anak berkebutuhan khusus lain yang berprestasi.

Setiap saya menyadari batas kesabaran saya atau papanya pada Ilman ketika dia tantrum, saya selalu berpikir, seandainya bukan eyang Ilman yang ngasuh saat kami bekerja. Apa yang akan diperbuat oleh pengasuhnya, ya, saat Ilman tantrum? Disiksakah? Dipukulikah? Sebab terkadang, kami aja – orangtuanya – suka nggak sadar melayangkan tangan kami di salah satu bagian tubuhnya, setiap dia tidak terkendali. Kami bersyukur, mesti kedua orangtua saya sudah tua, mereka sabar sekali menghadapi Ilman. Saya nggak tahu dan nggak berani membayangkan, seandainya Ilman pakai pengasuh. Lihat tetangga depan rumah, yang anak-anaknya nggak pernah ngadat, masih dihukum di dalam kamar mandi, kok, sama pembantunya.

Saya percaya, Allah Maha Baik. Saya nggak mungkin dititipi anak spesial, kalo bukan karena saya istimewa. Saya harus belajar banyak dari anak saya. Keadaan ini membuat saya makin kompak dengan suami juga anggota keluarga lain. Saya makin peduli dengan autisme. Dan inipun yang membuat saya nggak akan pernah berhenti mengedukasi orang-orang yang masih seenaknya menggunakan kata “autis” sebagai bahan candaan.

I love you, Ilman. Ilman jantung bunda. Ajari bunda selalu untuk menjadi ibu yang baik buat Ilman, ya..

Oleh-oleeeeh….

Ini murni curhat pribadi. Kalo ada yang tersinggung, mohon maap Anda nggak boleh tersinggung . Karena emang nggak bermaksud menyinggung siapapun dan bukan lagi ngegosip . Cuma curhat pribadi, tapi pengen dibaca orang laen. #eh

Setiap saya baca postingan tentang seseorang yang mau traveling, entah itu di plurk, twitter, pesbuk, di manapun, komen saya cuman satu: “oleh-oleeeeeeeeeh.”

Buat saya pribadi, komentar “oleh-oleh” itu ya cuma komentar sebagai bentuk kepedulian saya karena kebetulan saya baca postingannya. Sama sekali nggak pernah bermaksud minta oleh-oleh beneran. Yah, apalagi kalo belum pernah ketemu atau jarak saya dengan orang tersebut memang jauh, gimana ceritanya mau ngoleh-olehin?

Saya tetap konsisten dengan komentar itu pada posting siapapun nggak pandang bulu. Sampai suatu ketika ada yang berceletuk, “teh Peni minta oleh-oleh melulu, ih…” heuheu… Saya kesinggung di situ? Tentu tidak. Biarin, itu jadi ciri khas komentar saya *segitu pengennya punya ciri khas, yak… hahaha*

Lalu, apakah sekarang saya masih berkomentar seperti itu setiap ada yang posting mau bepergian? Tidak. Saya bahkan nggak pernah komen apapun lagi pada posting semacam itu, gara-gara saya pernah menemukan postingan di twitter yang bilang kurang lebih seperti ini, “kenapa, sih, harus minta oleh-oleh setiap ada yang mau pergi? bukannya bilang, `selamat menikmati perjalanan` atau gimana lah, ini malah nagih oleh-oleh…”

Kebetulan, bukan satu orang yang ngetwit seperti itu. Tapi tiga. Memang, nggak pada saat yang bersamaan dan mungkin juga bukan ditujukan ke saya. Cuma, saya tiba-tiba merasa nggak enak aja dengan tulisan seperti itu, kok, kayak nampar saya gitu… hihihi…

Kalo seandainya orang tersebut nanya balik ke saya ketika saya berkomentar “oleh-oleh” itu dengan pertanyaan, “mau oleh-oleh apa?” biasanya saya akan jawab, “dirimu pulang kembali ke sini dengan utuh. sehat wal afiat. itu oleh-oleh terbaik.” *lirik seseorang yang sering dapat jawaban ini dari saya*.

Saya mencoba berpikir positif, mungkin orang itu nggak mau terbebani dengan dimintai oleh-oleh. Cuma pengen jalan-jalan atau menikmati liburan aja, kok, harus bawa oleh-oleh. Mungkin, lho, ya… Tapi, ya, sudah ditampar tiga kali begitu, membuat saya berpikir. Walau tulisan itu nggak ditujukan ke saya (sebab memang no mention juga sih), bisa jadi banyak orang yang nggak suka dikomentari “oleh-oleh” ketika mereka hendak bepergian.

Jadi sekarang, saya sering nggak peduli dengan orang yang ngetwit atau posting mau bepergian. Takut keceplosan minta oleh-oleh lagi… hihihi….